Selasa, 09 September 2014

Pendakian ke Gunung Gede 2958 mdpl

Para Penakluk Badai di TN.Gede-Pangrango

Kami bukanlah pria-pria kesepian, bukan juga sang Arjuna yang mencari cinta. Tapi kami adalah Anak Muda yang bersemangat dan menyukai tantangan. Walaupun sebagian besar diantara kami adalah jomblo, hehehhehe.

Entah dari mana ide mendaki gunung ini berawal, yang pasti ini adalah keinginan dari teman-teman yang menginginkan sebuah moment pertemuan yang berbeda dan berkesan. Kemudian ide mendaki gunung tercetus. Dengan dikordinir oleh Heri dan Noval, dipilihlah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai destinasi pendakian kami. Total 16 orang terdaftar dalam tim pendakian ke TN.Gede Pangrango dan semuanya…Pejantan Tangguh, hehehhehe.

Dalam tim pendakian ini, hampir seluruh anggota dari tim ini tidak memiliki pengetahuan tentang mendaki gunung, hanya Heri yang anggota MAPALA dan Noval yang ketua Pramuka di masing-masing kampus mereka dulu. Pengetahuan mereka tentang gunung cukup mumpuni dan pengalamannya tidak diragukan lagi. Selain itu ada Bang Colin dan Bobi yang sudah pernah ikut dalam pendakian sebelumnya di Gunung Rinjani. Sedangkan yang lainnya tidak pernah memiliki pengalaman apapun tentang gunung begitu juga dengan saya, tidak pernah sama sekali mendaki dan ini adalah pengalaman pertama saya. 

Hiking Gunung Gede Pangrango
Tim Pendaki Gn.Gede
Heri dan Noval mengatur semuanya termasuk administrasi dan pembagian tugas, jadwal pendakian sudah ditetapkan namun ada satu masalah yang membelit tim pendakian kami. Dari informasi panitia, jika semua jalur pendakian sudah penuh kecuali satu jalur, Salabintana. 

Salabintana merupakan rute terpanjang untuk menuju ke puncak Gunung Gede dan selain itu terkenal dengan kesulitannya. Ada lagi rintangan yang sering dihadapi oleh pendaki yang melalui jalur ini, Pacet dan serangga. Tidak banyak pendaki yang melewati jalur ini karena alasan tersebut apalagi untuk pendaki-pendaki pemula. Kami sendiri awalnya berencana melalui rute Gunung Putri yang merupakan jalur terpendek untuk sampai ke puncak dan alternative lainnya adalah melalui jalur Cibodas. Tapi semua jalur itu sudah penuh dan ditutup untuk pendaftaran baru.

Tapi hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk tetap melakukan pendakian. Semangat teman-teman yang tergabung dalam tim sedang tinggi-tingginya dan hal ini adalah awal yang positif untuk tim. Jumat malam pukul 8, kami berangkat dari basecamp kami di Jakarta dengan menggunakan mini bus yang sudah dibooking seminggu sebelumnya. Cukup jauh ternyata perjalanan kami, tampaknya tengah malam kami baru sampai di penginapan di dekat pintu gerbang Salabintana. Kami mengisi perut terlebih dahulu sebelum beristirahat guna pendakian esok harinya.

Sabtu pagi, setelah selesai sarapan dan menyiapkan semua perlengkapan dan logistik, kami terlebih dahulu melakukan brefieng kecil terkait pendakian yang akan kami lakukan hari ini dan juga melakukan pemanasan ringan. Selanjutnya kami menuju ke Post 0 dimana panitia penjaga pintu gerbang sudah menanti kedatangan kami, tampaknya sang penjaga agak kurang yakin dengan tim kami. Hheheheh, jangan underestimate gitu dong Bang!

Dengan penuh semangat, semua anggota tim melangkah dengan pasti melewati jalur Salabintana ini. Udara segar melewati paru-paru kami, suara burung dan serangga terdengar dengan damainya berpadu dengan suara air yang mengalir. Tampaknya daerah ini masih begitu terjaga. Kawasan Hutan di Taman Nasional Gede Pangrango ini masih dilindungi oleh Pemerintah, namun meskipun demikian masih terdengar para perusak hutan dan pemburu liar di sekitar kawasan TN.Gede Pangrango.

Jam-jam pertama perjalanan kami berjalan dengan lancar, tidak ada masalah yang berarti. Hanya nyamuk dan pacet saja yang menghalangi perjalanan kami dan sesekali harus berhenti untuk membersihkan sisa-sisa darah yang menetes. Namun keadaan semakin sulit manakala satu persatu dari anggota tim mengalami kram di kakinya. Tapi kondisi ini tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap melanjutkan perjalanan, formasi tim terus diganti dan sesekali istirahat diperlukan untuk mengembalikan kondisi badan semua anggota tim.

Saya sendiri memamfaatkan waktu istirahat ini untuk menikmati suasana hutan hujan tropis yang masih asri. Menghirup sebanyak mungkin udara segar dan mensyukuri apa yang masih terjaga disini. Hal langkah yang sulit ditemukan di Jakarta. 

Setelah selesai beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Selangkah demi selangkah jalur setapak ini kami lewati, teriakan-teriakan semangat kami lontarkan sepanjang perjalanan agar tetap fokus ke pendakian. Kadang-kadang juga bernyanyi layaknya pasukan TNI yang sedang olah raga di jalanan. Hehheheh.

Jalur pendakian ini kian lama kian terjal. Sesekali kami harus melewati rintangan berupa pohon-pohon tumbang. Belum lagi tanjakan-tanjakan kecil yang menambah kesulitan pendakian ini. Kabut mulai naik dan membatasi jarak pandang kami. Harus tetap fokus dan selalu bersama anggota tim adalah hal utama. Karena jika kami hilang fokus dan salah melangkah, jurang di kira dan kanan kami sudah menanti.

Stop-Stop!! Teriakan dari salah seorang anggota tim, lebih tepatnya saya lupa siapa yang memberikan instruksi untuk berhenti. Entah apa gerangan yang terjadi. Yang pasti Bang Ari duduk terkapar diatas bebatuan. Tampaknya kram parah dialamainya. Urat di kaki Bang Ari berdenyut-denyut dengan cepat seolah-olah sedang dipompa dan akan meledak. Kondisi yang tampaknya cukup gawat. Bang Richard, Heri dan Noval cepat tanggap menghadapi kondisi ini. Perlengkapan bang Ari langsung diturunkan. Kakinya langsung diluruskan agar darah bisa mengalir dengan normal. Salep otot dioleskan dengan perlahan dan hati-hati agar tidak salah urut nantinya.

Kondisi ini semakin dipersulit dengan datangnya hujan. Pejalanan kami sendiri belum setengahnya. Semakin deras, semakin deras dan semakin deras hujan melanda kami di dalam hutan hujan tropis. Pakaian kami basah kuyup dan tidak sempat memasang pelindung anti hujan. Barang bawaan kami semakin berat terasa di punggung hal ini disebabkan karena basah oleh air hujan. Jalanan semakin licin dan terjal. Dilihat dari raut wajah teman-teman tampak dengan jelas kelelahan dan semangat yang membara diawal tadi seakan sudah lenyap.

Agung tampaknya tidak dapat melanjutkan perjalanan, dia ingin pulang meskipun kakinya tetap melangkah maju kedepan. Noval terus memberinya semangat. Bang Ari dipanggul oleh teman-teman lainnya sedangkan barang bawaannya diangkut oleh Irman. Bang Colin dan Bobi sudah lebih dulu mendaki, mereka mendapatkan tugas untuk segera sampai di Alun-Alun Surya Kencana dan segera mencari lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda. 

Hujan diatas gunung seperti ini berbeda dengan hujan yang kita alami di kota. Ini lebih terasa seperti badai, yap Badai ketimbang hujan biasa. Angin menderu-deru dan rintikan-rintikan hujan terasa jauh lebih besar dan tajam menusuk ke kulit. Menyulitkan pandangan. Ditambah lagi udara dingin di puncak gunung semakin menambah level kesulitan yang kami alami saat itu. Tapi dengan sisa tenaga dan sisa semangat, kami terus melaju ke depan. Karena kembali pulang bukanlah pilihan.

Heri memberikan instruksi pada saya untuk menyusul Bobi dan Bang Colin yang sudah jauh meninggalkan kami. Segera dirikan tenda dan panaskan air!!! Dengan Sigap saya melangkah melewati jalanan setapak dan rintangan didalam hutan. Terlihat perbedaan fauna yang menunjukan jika puncak sudah dekat. Benar saja, setelah melewati semak terakhir itu, saya melihat hamparan hijau luas membentang, ada Edelweis disana, tepat di kaki gunung Gede. Diantara Badai besar yang sedang berkecamuk, saya terpaku dan diam sejenak. Bersyukur dan berteriak kepada rekan-rekan saya yang masih berada dibawah, Sampai!!!, Kita Sampai di Alun-alun!!!. Tapi dimana Bobi dan Bang Colin?

Diantara semak ini, saya tidak bisa menentukan jalur yang akan saya lewati. Tapi sekilas saya melihat sebuah tanda, seperti pita yang terbuat dari plastik melilit diantara semak. Tampaknya ini adalah tanda yang dibuat oleh Ranger Hutan. Saya mengikut tanda itu dan menuntun saya ke Padang Edelweis. Disana ada Bobi dan Bang Colin. Segera dirikan tenda! 

Saya segera menurunkan daypack saya dan juga membantu bang Colin dan Bobi menurunkan Carriernya. Segera kami mengeluarkan tenda yang ada didalamnya. Lokasi untuk mendirikan tenda sudah ditetapkan. Berada diantara tenda pendaki yang lain. Sebenarnya cukup banyak pendaki yang sudah berada disini. Tapi sepanjang perjalanan kami di jalur Salabintana tidak ada seorangpun yang kami temui. Tampaknya jalur yang kami gunakan ini memang sedikit peminatnya.

Mengingat disini ada Bobi dan Colin, saya serahkan tugas mendirikan tenda dan memasak air pada mereka. Saya memutuskan untuk kembali ke tim dan membantu apa saja yang bisa saya lakukan. Saya mencoba untuk menuntun mereka segera sampai ke tenda. Satu per satu anggota tim sampai dengan selamat.

Hujan semakin redah di Alun-Alun Surya Kencana. Namun udara dingin menusuk kulit. Saya sendiri kehilangan suhu tubuh dengan cepat, sebuah kondisi yang cukup berbahaya diatas gunung, Hypotermia. Namun saya tahu pasti pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat seperti ini, makan. Makan apapun yang bisa kau temukan, untuk ada bekal roti yang bisa digunakan untuk mengganjal perut. Dan satu lagi, hal yang tidak pernah saya lakukan. Merokok. Hahhaha, enam batang rokok lewat begitu saja. Enam batang rokok penolong saya.

Hal paling lucu dan mengagetkan kami adalah, Meri dan Agung. Dalam kondisi seperti itu mereka tertidur di padang rumput di Alun-Alun Surya Kencana. Pernah saya membaca buku jika tertidur dalam kondisi dingin seperti itu, kita bisa tidak terbangun lagi selamanya. Mer, Mer, Meri!!! Teriak saya membangunkan Meri. Cukup kaget karena dia merespon cukup lama. Untung saja ia segera terbangun. Belum lagi Agung., teman yang satu ini terkenal karena hobi tidurnya. Dimanapun dia berada, dia bisa tertidur dengan pulasnya. Hal ini juga cukup mengkhawatirkan dalam kondisi seperti ini.

Tiga buah tenda sudah didirikan. Kompor sudah dinyalakan dan Air sedang dimasak. Dengan kondisi pas-pasan dan apa adanya, diatas gunung kami membuat minuman. Secangkir untuk bersama. Cukup menghangatkan. Benar-benar suasana kebersamaan yang tak terlupakan.

Heri dan Noval, mereka yang juga menyiapkan makanan untuk kami. Anggota tim yang lain mempersiapkan bahan makanan. Ada beras, Nasi, Mie, Sosis dan pasta. Cukuplah untuk kami semua.

Hujan gerimis masih berlanjut. Seakan hujan diatas gunung ini tidak akan berhenti. Benar-benar kondisi yang cukup berat untuk kami, basah kuyup, kelelahan, dan terjebak didalam badai.

Dalam tenda yang terdiri dari 5 orang per tendanya, kami saling menghangatkan. Tampaknya sepanjang malam, hujan badai terus melanda kami. Air hujan pun sampai masuk ke dalam tenda dan membasahi matras. Tenda kami bergoyang-goyang tertiup angin dengan cukup kencangnya. Malam kami lewati dengan beristirahat. Semoga esok hari badai cepat berlalu.

Minggu pagi, suara rintikan hujan masih terdengar dari dalam tenda. Tampaknya diluar masih hujan gerimis. Pagi ini kita tidak akan bisa melihat sunrise, satu lagi rencana pendakian kami buyar. Hehhehehe, memang alam tidak pernah bisa ditebak.

Saya ingat, saat itu pukul 9 pagi, seberkas sinar mentari masuk dan merayap diantara celah di tenda kami. Ternyata hujan sudah benar-benar berhenti, cahaya mentari yang hangat yang sangat saya rindukan menghangatkan kami. Mentari bersinar dengan cerahnya di Alun-Alun Surya Kencana. Akhirnya, kami bisa beraktivitas dengan normal. Semua anggota tim sudah terbangun. Sarapan pagi sudah disiapkan. Barang-barang kami yang berantakan akibat badai sudah dirapikan lagi. Sampah-sampah hasil semalam sudah dimasukan kedalam kantung sampah dan siap diangkut.

Di Alun-Alun Surya Kencana ini, ada satu hal yang juga tidak bisa kita lupakan. Buang Hajat di alam liar. Hahaha, saya pribadi tidak sempat melakukannya, hanya Aldrin, Meri dan Agung saja yang sempat melakukannya. Saya hanya buang air kecil saja diantara semak dan bunga Edelweis, hihiihi.

Setelah semua sudah siap, kami kembali memutuskan melanjutkan perjalanan. Bang Ari dan yang lainnya sudah dalam kondisi yang baik. Puncak Gunung Gede sudah jelas terlihat dari Alun-Alun Surya Kencana. Tinggal sedikit lagi kami akan sampai ke puncak dan membuktikan ketangguhan kami. Cielah, hahahhaha.

Tidak memakan waktu cukup lama, akhirnya kami semua sampai dengan selamat menuju ke puncak Gunung Gede. Sebuah pengalaman berharga yang tak akan pernah bisa terlupakan.

Sebenarnya, dalam pendakian ini kami juga berencana untuk mendaki puncak Gunung Pangrango. Namun melihat kondisi tim yang kurang siap sehingga dengan keputusan bersama kami mengurungkan niat tersebut. Dengan mendaki puncak Gunung Gede ini saja, kami sudah cukup puas dan sangat senang. Mungkin lain kesempatan saya bisa mendaki puncak gunung Pangrango.

Jalur Cibodas kami pilih sebagai jalur untuk menuruni puncak. Di Jalur ini, akan banyak kita temui orang yang dating kesini karena jalur Cibodas merupakan daerah wisata yang cukup popular. Disini ada sumber mata air panas dan menarik cukup banyak wisatwan yang dating kesini.

Perjalanan turun dari puncak gunung ini juga menjadi pengalaman yang berkesan. Banyak cerita yang terjadi dan kami alami. Si Agung, tiba-tiba seperti orang kesurupan ketika berada di jembatan setelah pos 1 di jalur Cibodas. Dia berlari-lari dengan bersemangat, padahal kakinya sedang bermasalah. Hahahaha, dasar si Agung. Padahal jalan ke Pos Utama masih lumayan jauh.

Inilah kisah petualang kami, Para Penakluk Badai di Taman Nasional Gede Pangrango. Sebuah petualangan yang meninggalkan begitu banyak kesan yang akan kami ingat kelak hingga hari tua. Namun pendakian ke Gunung Gede Pangrango ini bukanlah pendakian saya yang terakhir. Setelah itu, dengan tim yang sama meskipun tidak lengkap-kami juga mendaki Gunung Sindoro di Wonosobo Jawa Tengah.

Jalur Salabintana, TN.Gede - Pangrango

Keyword: Taman Nasional, Gunung Gede, Gunung Pangrango, Salabintana, Cibodas

0 comments:

Posting Komentar

Need Your Comments, Please !!!