Senin, 11 Agustus 2014

Senyum dari Timur

AndiSuNesia.Com. Sebuah Cerpen dari kisah anak rantau di Tanah Berkarang, Kupang Nusa Tenggara Timu, Indonesia.
 
Hari masih beranjak pagi, suara kokokan ayam masih terdengar jelas bernyanyi ditelinga ini. Dari balik tirai jendela, sinar mentari pagi menusuk tajam kearah mata saya yang masih terpejam. Udara dingin menyusup masuk dari celah-celah jendela, merayap manja disekujur tubuhku, seolah mengajak menari pagi ini.

Tanganku menggapai handphone yang tergeletak di meja tepat di samping tempat tidurku. Mataku melihat ke arah layar yang begitu terang tersebut, memburu angka-angka yang tertera disana. Jam enam tiga puluh pagi, masih terlalu dini untuk bangun sekarang, pikirku. Aku kembali menarik selimutku dan berniat melanjutkan tidurku namun sesuatu terlintas dalam benakku dan membatalkan niatku untuk melanjutkan mimpi-mimpi indah yang sempat tertunda tadi.

“Bangun!”, teriakku.

“Bukan saatnya kembali terlelap dalam dekapan selimut dan kasur yang empuk ini. Ini pagi yang berbeda, aku harus cepat melihatnya!”, batinku.

Aku bangun dari tempat tidurku, berlari menuju kearah jendela. Kusibakan tirai yang menghalanginya dan kubuka lebar-lebar daun jendela dikamarku. Udara yang segar masuk seketika ke dalam kamar. Dan sebuah pemandangan yang mengagumkan terpampang di depan mataku saat itu.

Luar biasa, sebuah pemandangan yang belum pernah ku lihat. Di depan mataku terhampar sebuah taman yang hanya ditumbuhi oleh beberapa pepohonan dan selebihnya karang-karang tajam menjulang. Sebuah kombinasi yang begitu apik yang tak pernah aku lihat sebelumnya dan tidak seperti yang aku bayangkan selama ini.

Aku berada di “Negeri Karang”, Kupang sebuah kota yang terletak di wilayah timur Indonesia tepatnya di pulau Timor. Mungkin Kupang terdengar kurang familiar di telinga kita dibandingkan Pulau Komodo, Pulau Flores, Pulau Rote. Padahal Kupang adalah Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana tempat-tempat wisata terkenal di Indonesia tersebut berada.

Jadi ingat beberapa waktu yang lalu ketika aku belum berada disini, banyak teman dan kerabat yang bertanya dimana letak kota Kupang.

Ada yang bilang, “Oh, Kupang yang ada di Sulawesi yah”.

Dan yang lainnya karena tidak tahu Kupang dimana sampai-sampai bilang, “Jauh sekali ke Kalimantan”.

Aku juga selama ini tak pernah bermimpi dan membayangkan akan berada di Kupang. Jauh dari keluarga dan teman-teman dan harus hidup mandiri dengan orang-orang yang baru aku kenal disini.

“Hahahhaha”, aku tertawa dalam batinku.

“Memang Tuhan itu tahu apa yang dibutuhkan oleh umatnya dan sepertinya inilah yang aku butuhkan untuk menemukan kedewasaan”, pikirku.

Hari ini, aku sendiri berencana untuk berkeliling dan melihat-lihat seperti apa kota Kupang. Setelah selesai mandi, aku beranjak keluar kamarku dan menuju lobi hotel. Tiba-tiba dari belakangku ada yang berteriak memanggil namaku.

“Pak Andi”, teriaknya.

Aku menolehkan kepalaku dan melihat ke arahnya. Sesosok tubuh tegap besar dengan warna kulit yang gelap ciri khas orang-orang Kupang. Dia menatapku sambil tersenyum dan gigi putihnya terlihat dengan jelas, begitu kontras dengan bagian tubuhnya yang lain.

“Oh, Pak Maxis”, sapaku.

Ya, namanya Maxis. Beliau adalah seorang teman yang aku kenal dari teman lainnya yang pernah bekerja di Kupang. Dialah juga yang semalam menjemputku di Bandara Eltari, Kupang.

Pak Maxis adalah orang asli pulau Timor, lahir dari keluarga biasa di sebuah desa kecil di kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tempat yang berada di dataran tinggi Pulau Timor tak jauh dari kota Kupang, bisa ditempuh dalam waktu 2 sampai 3 jam dengan menggunakan mobil pribadi. Suasana disana mirip seperti Bogor atau Bandung yang begitu dingin. Begitulah kata pak Maxis menjelaskan kepadaku.

Dan hari ini, Pak Maxis akan menjadi pemanduku yang akan mengajakku berkeliling melihat-lihat seperti apa kota Kupang ini.

Setelah sarapan, Pak Maxis mengajakku berkeliling dengan sepeda motornya. Kami seharian mengitari kota Kupang, melihat suasana dan pola hidup masyarakat Kupang. Kupang bukanlah kota besar, disini tidak ada Industri yang bisa membangun kota ini. Hanya ada Semen Kupang, itulah satu-satunya industry besar yang ada disini. Namun Semen Kupang sendiri sempat koleps beberapa tahun yang lalu hingga diakusisi dan dibangkitkan lagi oleh pihak swasta.

Puas seharian melihat kota Kupang, Pak maxis mengajak saya mencari makan siang.

“Pak Andi, ayo kita istirahat sejenak dan mencari tempat untuk makan siang”, ajaknya.

“Boleh Pak”, balas saya.

“Pak Andi mau makan apa, nanti saya carikan tempatnya?”, tanyanya.

“Sepertinya saya mau mencoba mencicipi makanan khas Kupang, apakah disekitar sini ada yang menyediakannya?”, tanya saya.

“Hmm”, Pak Maxis berfikir sambil bergumam.

“Makanan Khas ya?. Ayo kita mencoba Jagung Bose, saya tahu tempat enak yang menyediakan makanan tersebut.”, ajaknya.

“Jagung Bose?”, saya bingung sendiri.

Tak lama berselang kami sudah sampai di sebuah tempat yang tampak seperti sebuah kota tua. Bangunan-bangunan tersebut tampak kurang terawatt dengan warna cat yang sudah mulai kusam bahkan menghitam. Saya pun penasaran dengan lokasi yang kami tujuh ini dan saya mulai bertanya dengan Pak Maxis.

“Pak Maxis, tempat apa yang sedang kita kunjungi ini?”, tanyaku padanya.

“Oh, Ini adalah kawasan kota lama Kupang. Sebuah kawasan yang dulu menjadi pusat kota di Kota ini.”, terang Pak Maxis.

Menyelusuri kawasan kota lama, kami sampai di sebuah tempat yang tampak seperti sebuah pelabuhan bagiku. Kawasan itu begitu ramai mulai dari pedagang kaki lima hingga pemiliki toko, warga biasa hingga wisatawan. Sepertinya ini salah satu spot wisata di Kupang.

Pak Maxis memutarkan motornya dan mencari tempat untuk memarkirkan motor tersebut. Beberapa lama motor disandarkan dan diparkirkan manis berjajar diantara motor-motor lainnya disana.

“Yap, kita sudah sampai. Saatnya mencari pedagang yang menjual jagung Bose.”, kata pak Maxis kepadaku.

“Oh, iya pak.”, aku tersentak kaget keluar dari lamunanku. Aku masih penasaran dengan lokasi tempat kami berada sekarang.

Pak Maxis melangkah menuju ke keramaian, ia mencari pedagang yang menjajahkan Jagung Bose. Seolah sudah mengenal dengan baik tempat ini, Pak Maxis mencari dengan pasti lokasi sang penjual Jagung Bose.

“Pak Andi, Ayo kemari!”, teriak pak Maxis kepadaku.

Saya berjalan cepat menuju ke arah pak Maxis berdiri. Sepertinya beliau sudah menemukan sang penjual jagung Bose. Saya juga masih penasaran seperti apa jagung Bose yang dimaksud itu. Sebuah ibu yang paruh bayah terlihat sedang menyiapkan makanan yang maksud.

Tak lama menunggu, Jagung Bose yang dinantikan sudah selesai dihidangkan oleh sang ibu. Mama Ema ia kerap disapa, ia adalah salah satu penjual jagung Bose di kota Kupang. Memang belum banyak orang yang menjajakan jagung Bose sebagai jajanan sehingga akan sedikit sulit menemukan Jagung Bose di hari-hari biasa. Jagung Bose umumnya dihidangkan pada perayaan-perayaan besar di Kupang.

Jagung Bose adalah sebuah makanan yang terbuat dari jagung sebagai bahan utamanya. Jagung ini terlebih dahulu ditumbuk kemudian direbus dan dicampur dengan kacang merah. Untuk meningkatkan cita rasanya bisa ditambahkan santan dan garam. Lebih tampak seperti sebuah bubur jagung manis. Untuk rasanya memang patut untuk dicoba.

“Jagung Bose umumnya dihidangkan dengan Se’i.”, terang mama Ema sambil tersenyum.

“Se’i?”, tanyaku.

“Ya Se’i. Se’i adalah daging asap yang bisa dibuat dari irisan daging sapi ataupun babi.”, mama Ema kembali menjelaskan.

“Tenang pak Andi, tempat kita berada sekarang adalah sebuah perkampungan muslim di kota Kupang. Kampung Solor namanya.”, Pak Maxis seolah menenangkan.

Aku menghela nafas lega. Aku tak mengira jika di Kota Kupang ini terdapat sebuah perkampungan yang mayoritas dihuni oleh umat Muslim. Padahal selama perjalanan tadi saya hanya melihat Gereja sebagai tempat ibadah masyarakat Kupang. Atau mungkin saya yang tidak terlalu memperhatikan.

“Hahahaha”, mama Ema tertawa sambil mulutnya terbuka dengan beberapa giginya sudah mulai ompong.

“Oh, ternyata ini perkampungan umat muslim pak?”, tanyaku pada pak Maxis.

“Ya, mayoritas penduduk disini menganut islam. Mesjid besar disana adalah buktinya.”, pak Maxis menunjuk ke arah lokasi sebuah proyek.

“Oh, itu sedang membangun Masjid pak?”, tanyaku lagi.

“Bukan, tetapi Masjid besar itu sedang mengalami renovasi. Itu Masjid MUI kota Kupang.”, terang pak Maxis.

“Oh.”, saya mengangguk.

“Kupang adalah kota yang cinta damai. Disini hampir tidak pernah terjadi pertikaian. Pertikaian terakhir terjadi beberapa tahun silam. Itupun karena provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang datang dari luar Kupang.”, pak Maxis menjelaskan.

Puas menikmati Jagung Bose buatan mama Ema. Kami berkeliling sebentar di lokasi tersebut yang merupakan sebuah tempat yang pernah menjadi pelabuhan di kota kupang, Pelabuhan Kota Lama. Tempat yang berdiri adalah sebuah dermaga yang kini berubah fungsi menjadi tempat pedagang kaki lima dan tempat wisata.

Jika sore hari menjelang, kawasan ini akan semakin ramai dikunjungi oleh warga kota Kupang. Kita disini bisa menikmati sunset yang cantik dari sini. Selain itu, jika kita berjalan masuk sedikit ke dalam kampung solor kita akan menemukan sebuah pasar malam yang umumnya diramaikan oleh pedagang yang menjajakan makanan laut.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini pak Maxis mengajak saya untuk berkunjung ke rumahnya. Tentu saja saya sangat senang sekali. Pak Maxis tinggal dan hidup menetap di kota Kupang sudah cukup lama. Ia tinggal dengan seorang istrinya dan 3 orang anak dari hasil perkawinan mereka. Semua orang asli NTT. Namun pada saat saya, datang ketiga anak pak maxis sedang menginap di rumah orang tuanya di Timor Tengah Selatan.

Kami kembali melewati lokasi kota lama, tapi kali ini berlawanan arah dengan lokasi penginapan saya. Rute yang kami lewati sedikit menanjak, sepertinya berada di daerah yang cukup tinggi dari lokasi kampong solor. jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari kampong solor, hanya beberapa menit dari sana kami sudah sampai di rumah pak Maxis. Istri pak Maxis, mama Inu menyambut kedatangan kami disana. Mama Inu tak kalah ramahnya dengan pak Maxis. Saya seolah sudah lama dikenal oleh keluarga pak Maxis.

Pak Maxis dan mama Inu menceritakan banyak hal kepada saya tentang keluarga mereka, kehidupan masyarakat NTT, dan cerita tentang Timor Leste saat ingin memerdekan diri dengan Indonesia.

Berdasarkan cerita pak Maxis dan keluarga, masyarakat NTT memiliki banyak budaya dan tradisi dalam sebuah pernikahan. Dan yang paling menarik adalah tentang perempuan dari pulau Rote. Masih menurut pak Maxis, perempuan pulau Rote adalah yang paling mahal diantara perempuan lainnya di kepulauan NTT. Apalagi jika perempuan tersebut adalah keturunan bangsawan. Dan yang membuatnya mahal tentu saja adalah pesta adat yang wajib dilangsungkan dalam pernikahan namun waktunya dapat dilaksanakan setelah menikah.

Lain halnya dengan perempuan dari Sabu, jika kita tidak sanggup membayar biaya adat dalam pernikahan, kita akan diberikan kemudahan oleh pihak keluarga perempuan berdasarkan kesepakatan bersama. Kemudahaan tersebut berupa biaya pengganti dalam pesta ada dengan cara melakukan cium hidung ke semua pihak keluarga perempuan. Yap, cium hidung dengan cara menyenggolkan hidung kita kepada hidung keluarga pihak perempuan seperti cium pipi kiri dan cium pipi kanan dalam budaya barat.

Karena begitu menariknya pembicaraan dengan pak Maxis dan istrinya, tak terasa waktu sudah beranjak malam. Saya memutuskan untuk pulang kembali ke penginapan. sebenarnya pak Maxis dan istrinya menawarkan untuk bermalam di rumahnya, namun saya menolaknya dengan halus. Pak Maxis kembali menghidupkan motornya dan selanjutnya mengantarkan saya pulang. Saya pamit dengan ibu Inu, istri pak Maxis. Ia melambaikan tangan dan sambil melemparkan senyum kearah saya.

Ketika pulang, kami menyempatkan diri untuk makan malam terlebih dahulu di kampung solor. Berbeda dengan saat siang hari, kota Kupang terlihat lebih ramai saat hari menjelang gelap. Apalagi di lokasi pasar malam yang banyak menjual makanan laut.

Pedagang di pasar malam kampung solor didominasi oleh para perantau dari luar kupang. Umunya mereka adalah rantauan dari pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Memang terlihat dengan jelas jika masyarakat asli kota Kupang kurang minat mencari nafkah dalam bidang ini. Mayoritas masyarakat Kupang memiliki mata pencarian sebagai petani ataupun nelayan.

Pak Maxis mengajak saya makan di salah satu tenda yang terlihat lebih besar dari lainnya. Sepertinya ini tempat yang paling laris disini. Bu Sri sang pemilik tenda merupakan kenalan dari pak Maxis. Bu Sri sendiri adalah orang asli Surabaya, ia datang kesini untuk berdagang. Sudah cukup lama ia mencari nafkah di kota Kupang ini. Ia melihat potensi hasil laut kota Kupang yang cukup besar dan belum maksimal untuk dimamfaatkan sehingga membuatnya membuka usaha tenda makanan laut seperti sekarang.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan kami datang juga. Saya sendiri memesan ikan kerapu bakar dengan disiram saus asem manis, sedangkan pak Maxis memesan cumi lada hitam dan udang goreng. Kami menikmati makan malam di kampung solor sambil berbincang-bincang sejenak. Menurut pak Maxis, salah satu penyebab orang Kupang enggan membuka tempat makan semacam ini adalah karena orang Kupang kurang pandai memasak.

“Orang Kupang sebenarnya kurang pandai memasak, meskipun bisa memasak tetapi belum tentu sesuai dengan lidah orang luar.”, terang pak Maxis kepada saya.

“Oh, ternyata seperti itu pak.”, jawab saya.

“Betul. Jadi akan sangat sulit menemukan tempat makan yang dikelola langsung oleh orang Kupang disini. Biasanya para pendatang dari Sumatera dan Jawa yang pandai memasak dan mengolah bumbu.”, terang pak Maxis kembali.

Berdasarkan cerita pak Maxis malam itu dengan saya, sebenarnya orang Nusa Tenggara Timur juga bisa mengolah ikan. Ikan akan dibakar tanpa menggunakan bumbu, jadi dimasak dengan natural dan dimakan dengan sambal khas Kupang. Sambal khas Kupang disebut Lu’at, sebuah sambal yang memiliki rasa pedas dan begitu masam namun segar. Dan orang Kupang sangat menyukai sambal Lu’at ini. Perjalanan hari ini begitu menyenangkan, semoga esok lebih menyenangkan lagi.


Hari ini, aku berencana berkeliling kota Kupang seorang diri tanpa ditemani oleh pak Maxis. Pak Maxis sempat menawariku untuk menggunakan motornya namun aku menolaknya dikarenakan aku ingin menggunakan fasilitas umum yang ada. Kemarin aku sempat melihat jika di Kupang banyak terdapat angkutan umum.

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh pak Maxis semalam, angkutan umum kota Kupang disebut dengan oto (Mobil) dan sebagai petunjuk jurusannya menggunakan nomor lampu. Jadi jika saya ingin menuju ke kampung solor cukup naik oto lampu sepuluh. Menarik sekali.

“Ayo semangat!!!”, teriak saya dalam batin.

Tak lama menunggu di pinggir jalan angkutan umum yang dimaksud sudah tiba. Satu lagi yang unik dari kota Kupang ini adalah angkutan umumnya. Oto atau angkutan umum orang Kupang dilengkapi dengan seperangkat alat audio dan sang sopir akan memutar musik di dalam mobil dengan sangat keras. Hal ini bertujuan untuk menarik minat anak-anak muda khususnya gadis Kupang untuk naik ke angkutan umum mereka. Bahkan, seorang wisatawan asing pernah mendokumentasikan hal ini dan mempublikasikannya di Youtube.

Hampir setengah jam perjalanan menggunakan oto, akhirnya aku tiba sampai di kota lama untuk selanjutnya transit dan naik oto dengan nomor lampu lainnya. Rencananya aku ingin membeli kebutuhan pribadi selama di Kupang dan tujuanku adalah Flobamora. Flobamora merupakan sebuah kawasan belanja modern yang pertama di Kupang dan toko yang paling besar hanyalah Ramayana. Disinilah juga menjadi pusat berkumpulnya masyarakat kota Kupang. Puas berbelanja, aku melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata yang terdapat di Kupang.

Salah satu lokasi wisata yang popular di Kupang adalah pantai Lasiana. Sebuah pantai yang terletak di ujung timur kota Kupang. Dengan pasir putih yang membentang sepanjang pantai, air laut yang bersih dan sunset yang indah membuat pantai ini cukup terkenal di Indonesia. Dan kesanalah tujuanku selanjutnya, pantai Lasiana.

Dengan menggunakan ojek, aku berangkat ke Lasiana seorang diri. Berbekal rasa penasaran akan kecantikan pantai Lasiana membuatku semakin bersemangat menuju kesana. Pak Rihi sang tukang ojek, memberikan panduan gratis tentang pantai lasiana. Menurutnya, pantai Lasiana merupakan salah satu objek wisata yang sudah lama dikelola oleh pemerintah kota Kupang, sudah sejak tahun 70an. Pantai ini tidak banyak mengalami perubahan yang berarti dikarenakan perkembangan pariwisata di Nusa Tenggara Timur tidak terpusat di Kupang.

Masih menurut pak Rihi, pantai Lasiana akan ramai dikunjungi oleh wisatawan local pada akhir pekan, sabtu dan minggu. Disana akan banyak juga pedagang yang menjajakan jajanan berupa jagung bakar dan kelapa muda. Jika hari normal seperti ini, pantai Lasiana akan sepi pengunjung.

Hampir sejam kami berkendara menuju ke Lasiana. Sampai disana, aku cukup puas dengan apa yang aku dapatkan. Lasiana masih cantik seperti apa yang diceritakan oleh orang-orang. Meskipun sedikit kotor akibat sampah-sampah dari laut yang terdampar di pesisir pantai lasiana. Pasir putih lasiana membentang luas sepanjang mata memandang.

“Sebentar lagi sore, aku harus dapat menyaksikan sunset di Lasiana.”, kataku dalam batin.

Tak lama menunggu sunset disini dan memang tak dapat diragukan lagi, sunset di Kupang benar-benar indah. Tak kalah indah dari tempat-tempat lainnya yang selama ini saya kunjungi.

Puas menikmati keindahan alam ini, aku kembali lagi ke penginapan dan menantikan hari selanjutnya di kota Kupang ini. Aku mulai jatuh cinta dengan Kupang.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Rasanya baru kemarin aku tiba di kota Kupang ini. Namun panggilan kerja membuatku harus meninggalkan kota Kupang. aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu, sebuah surat tugas diberikan kepadaku. Yang isinya adalah penugasanku di Kupang, Nusa Tenggara Timur selama Sembilan bulan. Dulu aku mempertanyakan kenapa aku ditugaskan disana. Aku sempat menolaknya, namun kini aku ingin ditugaskan lebih lama lagi di Kupang.

Selama disini aku sudah menjelajahi hampir sebagian besar tempat-tempat yang indah di Pulau Timor ini sebut saja pantai Lasiana, Tablolong, Gua Kristal, pantai Pasir Panjang, pantai-pantai yang tak bernama, Pulau Kera, Pulau Semau dan masih banyak lagi. Namun aku masih belum puas, aku ingin mengelilingi lebih jauh keindahan alam yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur ini.

Aku sudah cinta dengan alam di Nusa Tenggara Timur ini. Begitu elok, begitu indah, begitu alami. Benar-benar karya Tuhan yang Maha Indah yang mampu menciptakan semuanya seperti ini. Dan tangan manusialah yang tega merusak semuanya.

Aku juga cinta dengan keramah-tamahan orang-orang timur seperti pak Maxis, istrinya, mama Ema dan masih banyak lainnya. Mereka menerimaku tanpa pernah mengharapkan apapun, benar-benar tulus. Sebuah ketulusan yang ibarat mutiara. Aku juga cinta dengan cara mereka tersenyum. Senyum mereka sulit aku cari di kota-kota besar seperti Jakarta.

Senyum yang begitu tulus tanpa ada maksud apapun dibaliknya, begitu indah, begitu menenangkan jiwa ini. Aku rindu pada mereka, rindu akan senyumnya, rindu akan keramah-tamahan mereka, rindu akan semuanya.

Namun apa mau dikata, inilah takdir Tuhan. Tuhanlah yang tahu apa yang dibutuhkan oleh umatnya. Sama yang aku rasakan ketika aku sampai pertama kali ke Kupang. Mungkin aku akan mendapatkan pelajaran yang lebih berharga lagi di tempat lainnya. Sebuah pelajaran yang mungkin belum bisa aku temukan di Kupang.

Aku menitihkan air mataku. Seolah aku tak ingin lepas dari Kupang. Pesawatku lepas landas dari Bandara El Tari Kupang menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Selamat tinggal Kupang, senyummu akan ku kenang.

2 komentar:

Need Your Comments, Please !!!