Minggu, 24 Agustus 2014

Mendaki Puncak Gunung Papandayan 2665 mdpl Bag.2

AndiSuNesia.Com. Udara di Gunung Papandayan ini terasa jauh lebih dingin dibandingkan gunung sebelumnya. Lebih menusuk ke Tulang. Saya, Hery, Noval, Agung, Meri, Ajik, dan Arzan masih terjaga dan menghangatkan diri di dekat api unggun. Teman-teman yang lain tampaknya sudah lebih dulu masuk ke tenda dan beristirahat setelah makan malam tadi.

Kami yang terjaga menyempatkan waktu luang untuk berbincang-bincang. Malam itu cukup gelap di dalam hutan. Suara pendaki lain masih terdengar membahana dan bersahut-sahutan sepanjang malam. Entah apa maksudnya. Tapi kami tidak terlalu perduli akan hal itu.

Malam semakin dingin, satu per satu dari kami memutuskan untuk tidur. Meri, Arzan dan Ajik beristirahat di bawah Fly Sheet. Sedangkan Hery tertidur diatas matras dan berselimutkan Sleeping Bag-nya di dekat api unggun. Begitu juga dengan Agung. Noval masih sibuk merapikan api unggu agar nyalanya tidak terlalu besar dan merambat ke arah kami. Aku pun tertidur dalam lelah.


Sekitar pukul 1.30 malam, aku terbangun. Tampaknya ada embun yang mengenai dahiku, dan rasanya sekujur tubuhku langsung menggigil luar biasa. Begitu dingin. Nyala api unggun mulai padam. Pantas saja begitu dingin disini. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam tendah.

Dan sepertinya yang lainnya juga terbangun karena dingin. Agung, Meri dan Kholdun tampaknya merasakan dinginnya udara malam itu.

Sekitar pukul 3 atau pukul 4 pagi, Arzan membangunkan kami untuk segera beranjak dan memulai pendakian. Spontan aku langsung teriak, “Meriang aku Zan!!!”.

Hahahaha, serius. Aku benar-benar merasakan kedinginan luar biasa. Tidak kuat rasanya untuk beranjak dari sana apalagi mendaki sepagi ini.


Minggu pagi, Arzan, Issa dan Reza memutuskan untuk berkeliling lagi. Bukan ke puncak tetapi ke Hutan Mati (Death Forest), dekat dengan kawah Gunung Papandayan. Tampaknya mereka mendapatkan beberapa momen yang langkah.

Tepat setelah sarapan selesai dibuat, mereka kembali lagi ke tenda dan bergabung dengan kami. Sekitar pukul 10 pagi, Hery, Noval, Richard, Nirwan, Kholdun, Arzan, Issa, dan Saya memutuskan untuk mendaki puncak Gunung Papandayan pagi ini. Jalur yang kami pilih adalah melewati punggunangan bukit yang berada di belakang tendah kami, Tegal Alun (Padang Edelweis) dan Puncak Gunung Papandayan.

Indahnya Alam Indonesia Gunung Papandayan
View dari Puncak Bukit di Belakang Tenda Kami
Jalur yang kami lewati ternyata cukup sulit dibandingkan dengan rute Hutan Mati ke Tegal Alun. Disini medannya jauh lebih terjal dan licin. Tapi yang membuat aku salut dengan Kawasan Gunung Papandayan ini adalah, dimanapun saya berdiri selalu disuguhi keindahan alam yang luar biasa. Indahnya Alam Indonesia ini, pikirku.

Cukup lama kami berjalan, sekitar 30 menit akhirnya kami sampai di Tegal Alun. Begitu sampai, kami sudah disambut dengan Lagu Indonesia Raya. Ternyata ada teman-teman pendaki lainnya yang sedang mengadakan upacara bendera. Spontan kami mengangkat tangan kami dan memberi hormat ke Sangkaka Merah Putih yang sedang berkibar dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana terbilang hikmat.

Indonesia Independence Day Tegal Alun Papandayan
Upacara Bendera 17 Agustus 2014, Tegal Alun, Papandayan
Setelah selesai, kami mulai mendekat dengan rombongan tersebut. Masih ada banyak lagu kebangsaan yang dinyanyikan seperti Hari Merdeka, Bagimu Negeri dan lainnya.

Setelah dirasa cukup, rombongan itupun bubar dan kami juga melanjutkan perjalanan kami untuk menuju ke puncak gunung papandayan. Hari sudah beranjak terang. Sekitar Pukul 11 kami baru meninggalkan Tegal Alun.

Mencari Jalur ke Puncak Gunung Papandayan
Mencari Jalur ke Puncak Papandayan
Jalur ke Puncak Gunung Papandayan ini ternyata terpisah dengan Tegal Alun, kami harus melewati lembah dan menyebrangi sungai terlebih dahulu untuk sampai di jalur menuju ke Puncak Papandayan.

Jalur Puncak Gunung Papandayan
Jalur ke Puncak Gunung Papandyaan 
Jalur menuju ke puncak ini di penuhi dengan tumbuhan dan semak. Pohon yang tumbuh juga tidak terlalu tinggi.
Menuju ke Puncak Gunung Papandayan
Menuju ke Puncak Papandayan
Banyak juga pohon mati yang masih berdiri kokoh yang akan kita temui. Sepertinya, dulu disini juga terkena imbas dari letusan Gunung Papandayan seperti terlihat dari pohon-pohon mati yang mendominasi sepanjang jalur pendakian.

Hutan Mati di kaki Gunung Papandayan
Banyak Pohon Mati
Jalur menuju ke Puncak Gunung Papandayan terbilang cukup mudah. Tak berapa lama kami telah sampai di Puncak, Sekitar pukul 12.00 siang. Disana juga sudah ada beberapa rombongan lainnya yang sampai lebih dulu.
Menerobos Semak Menuju ke Puncak Papandayan
Menerobos Semak Menuju ke Puncak Papandayan
Puncak Gunung Papandayan ini tertutupi oleh pepohonan, sehingga cukup sulit untuk melihat pemandangan keluar. Hery mengajak kami untuk menuju ke spot lainnya setelah titik Puncak Gunung Papandayan, dekat dengan punggungan gunung yang baru mengalami longsor. Yap longsor, seperti tanah di puncak gunung papandayan ini belum stabil.

Dari spot itulah kami mendapatkan cukup momen berharga. Pemandangan nan indah disajikan oleh Gugusan Pengunungan Papandayan. Sejauh mata memandang masih ada Puncak Gunung lainnya yang terlihat. Cukup puas kami dibuatnya.

View dari Puncak Gunung Papandayan
View dari Puncak Gunung Papandayan
Sekitar pukul 1 siang, Noval memutuskan untuk mengajak kami turun. Jalur yang kami lalui masih sama dengan jalur pendakian sebelumnya hingga bertemu dengan persimpangan itu. Kami masuk ke jalur yang berbeda, dan keluar ke arah aliran sungai. Disana kami bisa minum sepuasnya. Selain itu, jarak ke Tegal Alun lebih dekat namun cukup sulit untuk di daki.

Arzan mengajak kami pulang melalui jalur Hutan Mati dikarenakan jarak tempuhnya yang jauh lebih dekat dan lebih mudah ketimbang jalur kami dating. Wajar saja, karena sebelumnya Arzan sudah kesini.

Di Hutan mati ini, Noval dan saya memutuskan untuk melakukan survey jalur guna perjalanan pulang ke Camp Devid. Yap, jadi tidak perlu melalui pondok Seladah dan Pos 2. Namun rutenya terbilang sedikit menantang.

Sekitar pukul 3 sore, kami sudah tiba di tenda dan bergabung dengan yang lain. Setelah makan dan beristirahat, kami mulai memberesi perlengkapan kami. Semua tendah kembali dilipat, barang-barang di packing kembali dan sampah dikumpulkan dalam trash bag. Saat itu sudah sekitar pukul 4, saatnya pulang.

Pendaki yang lain juga sepertinya sudah pergi. Tampak jauh lebih sepi dibandingkan hari sebelumnya. Pondok Seladah juga terlihat kosong dari kejauhan.

Sesuai jadwal, kami memutuskan untuk pulang melalui rute yang telah dipilih oleh Noval yaitu menyusuri tebing di dekat kawah gunung Papandayan.

Tim Pendakian Gn.Papandayan 2665 mdpl Garut Jawa Barat
Jalur ini memang jauh lebih cepat, namun cukup banyak rintangan yang kami lalui. Medan yang terjal dan di dominasi dengan bebatuan cukup menyulitkan. Harus benar-benar fokus dan hati-hati.

Sekitar pukul 5 sore kami sudah sampai dibawah. Istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Camp Devid.

Tambang Belerang Gunung Papandayan
Uap Belerang Mulai Naik, Kabur!!!
Kami kembali melanjutkan perjalanan kami sebelum malam tiba. Dan segera pulang kembali ke Jakarta karena esok sudah harus bekerja lagi. Hehehhehe


Berikut ini adalah pengeluaran kami perorang selama liburan ini. Pendakian ke Puncak Gunung Papandayan di hari Kemerdekaan Indoensia yang ke 69. Jaya lah Indonesiaku.

Itenary “Hiking Fun” Gunung Papandayan, Garut Jawa Barat

Primajasa Terminal Cililitan, Jakarta – Terminal Guntur, Garut Rp.42.000,-/Orang

Elf Terminal Guntur, Garut – Cisurupan, Garut Rp.15.000,-/Orang

Pick Up Cisurupan – Cap David Rp.20.000,-/Orang

Tiket pendaftaran pendakian Gunung Papandayan Rp.5.000,-/Orang

Pick Up Camp David – Cisurupan Rp.20.000,-/Orang

Angkot Cisurupan – Terminal Guntur Rp.15.000,-/Orang

Bus WanaRaja Terminal Guntur, Garut – Terminal Kampung Rambutan, Jakarta RP.42.000,-/Orang

Taksi Terminal Kampung Rambutan – Kosan Rp.72.000,-


Catatan Pendakian Gunung Papandayan 2665 mdpl, Garut Jawa Barat Indonesia, 16-17 Agustus 2014.

3 komentar:

  1. Tahun depan upacara bendera di gunung mana lagi kak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tahu.
      Yang ginian gak pernah direncanakan.
      Hehhehe

      Hapus
  2. aku suka gambarnya2 ceritanya ringkas padat.. cuma kurang pengnjungnya yaaa blogwalking yg banyak !

    BalasHapus

Need Your Comments, Please !!!